Tekad dan Jalan Panjang Untuk Berkarya

Simeulue adalah salah satu kabupaten di Aceh, Indonesia. Berada kurang lebih 150 km dari lepas pantai barat Aceh, Kabupaten Simeulue berdiri tegar di Samudera Indonesia. Kabupaten Simeulue merupakan pemekaran dari Kabupaten Aceh Barat sejak tahun 1999, adapun selama terjadi konflik di Aceh, tidak berimbas atau terjadi di pulau simeulue.

Kabupaten kecil yang terhampar menghadap samudra indonesia ini berpenduduk mayoritas beragama Islam. Masyarakat Simeulue mempunyai adat dan budaya tersendiri yang berbeda dengan saudara-saudaranya di daratan Aceh, salah satunya adalah seni Nandong, suatu seni nyanyi bertutur diiringi gendang tetabuhan dan biola yang ditampilkan pada aecara-acara tertentu dan istimewa.

Di pulau Simeulue terdapat pula seni yang sangat digemari sebagian besar masyarakat, seni Debus, yaitu suatu seni bela diri kedigjayaan kekebalan tubuh terutama dari tusukan bacokan pedang, rencong, rantai besi membara, bambu, serta benda-benda tajam lainnya dan Seni beladiri itu belakangan hari saya nilai banyak memiliki kemiripan dangan seni beladiri jawara Banten yang kental dengan Nuansa Islami.

Di kabupaten Simaulue inilah saya dilahirkan, sebagai anak Desa terpencil sebuah Pulau Kecil paling Barat Indonesia itu, sejak masih di sekolah SMP, di kampung Halaman saya selalu dipercaya kawan-kawan sebagai ketua di ke-organisasian, misalnya menjadi Ketua OSIS, pun sekaligus Ketua GUDEP Pramuka di daerah kami.

Pada tahun 1977, alhamdulilah, kami mendapat kesempatan untuk turut mengikuti Jambore Nasional Pramuka yang ke dua di Sibolangit. Saat berkesempatan mengikuti JAMBORE PRAMUKA itu pulalah saat dimana Saya baru melihat bahwa ternyata Indonesia begitu luas juga masyarakat nya sangat heterogen.

Sepulang dari JAMNAS 1977 itu Saya mulai berpikir dan bertekad, saya Harus keluar dari Pulau kecil ini, dan se-tamat Saya SMP tahun 1979, maka bulatlah tekad saya untuk melanjutkan Sekolah Ke Kota Medan.

Menumpang tinggal di rumah kerabat, saya melanjutkan sekolah di SMA Negeri Medan. Berbagai Aktivitas keorganisasian selama SMA saya jalani, dan tanpa terasa ribuan kali sudah matahari terbit dan tenggelam, musim silih berganti, semangat ini kian membara saja, dan saya putuskan untuk kembali merantau ke ibu kota.

Kurang lebih satu tahun saya beradaptasi di ibu Kota, dari mulai dari mengadu nasib dalam seni peran teater, hingga berjualan di kaki lima emperan Blok M Mall, saat itu saya ikut kawan berjualan Dompet dan Gesper.

Alhamdulillah dengan serba keterbatasan, saya senantiasa menanamkan tekad untuk harus masuk perguruan tinggi. Bayangan bahwa Ibu kota lebih kejam dari Ibu tiri itu ternyata benar adanya, namun, selangkah pun hal itu tak menyurutkan langkah saya.

Alhamdulilah, langkah awal dari cita-cita saya untuk melanjutkan jenjang pendidikan di universitas tercapai. Di kampus tempat Saya menuntut Ilmu, saya di percaya kawan-kawam sebagai Ketua Senat Mahasiswa, dan disaat yang hampir bersamaan di lingkungan tempat saya Kost, para remaja dan Anak-anak muda di Kelurahan Bidara Cina Kampung Melayu, saya pun dipercaya sebagai ketua Karang Taruna.

Semangat dan Jiwa ber-organisasi yang tertanam dalam diri saya kental diwarnai keberadaan Almarhum Ayahanda saya. Saat saya kanak-kanak, beliau sempat di angkat menjadi kepala Kampung oleh Masyarakat dan acapkali disaat ada keributan di lingkungan masyarakat, apakah itu perkelahian atau ribut Rumah tangga, maka mereka mendatangi kediaman kami.

Dan, saya saksikan bagaimana Orang Tua saya dengan sangat bijak memberi nasehat yang berbuah perdamaian dan tentunya demi kebaikan bersama.

Perlakuan Ayah Saya itu lah yang tertanam di otak kanan saya sejak usia dini, sehingga dalam diri saya ada dorongan untuk terus mengayomi, mungkil hal itu yang tercermin dalam diri saya sehingga di tempat mana saja, saya selalu dijadikan pemimpin.

Ayah saya seorang Petani, juga merangkap sebagai buruh Desa yang berpendidikan Belanda, karena kebetulan pula kakek-nya adalah seorang pedagang besar di desa kecil tersebut, salain itu, Ayah dari orang tua saya atau Kakek saya, adalah Kepala KUA pertama kampung kami setelah Indonesia Merdeka.

Berbagai aktivitas dan dinamisasi kemasyarakatan di Ibu Kota saya ikuti, misalnya dengan bergabung ikut sebagai anggota Organisasi Pemuda Pancasila dan saya awali mulai dari Ketua Satuan Pelajar dan Mahasiswa Pemuda Pancasila DKI jakarta, hingga sampai kepada wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila DKI Jakarta, dan Alhamdulillah semua saya jalani dengan sungguh-sungguh .

Sebagai Kader HMI saat Saya masih Status Mahasiswa menempa Jiwa ke Organisasian Saya cukup, dan dapat menjadi bekal untuk tampil dimasyarakat, dan berbekal sedikit ilmu Agama yang saya peroleh saat saya sekolah Pendidikan Guru Agama, setelah tamat SD, memberikan saya keleluasaan, dimana saat saya Mahasiswa-pun, saya bisa nyambi mengajar di Sebuah Pesantren Albarqah Pondok Gede.

Ilmu bela diri yang saya tekuni sejak SMP di kampung saya yang kemudian berlanjut saat saya di Jakarta mengikuti latihan Karate-Do Gojukai Indonesia, saya ter akhir menyandang Sabuk Hitam DAN II, bekal itu pula kemudian yg memberi Saya tambahan Rezki melatih Karate di beberapa Sekolah sebagai kegiatan Ekstra kulikuler Alhamdulillah, puji syukur selalu saya panjatkan didalam saat yang menghimpit ataupun luang.

Mendapat predikat sarjana, saya diberi kesempatan mengajar di Kampus tempat saya menimba Ilmu, dan berjalan hingga 5 tahun, yang kemudian menghantarkan saya pada keputusan untuk terjun dalam Dunia Politik secara sungguh-sungguh, dimana sebelum itu, saya telah mengikuti Berbagai Pelatihan Politik yang dilaksanakan partai GOLKAR yang saat itu masih berstatus Golongan belum Partai..padahal Sama saja hehehe.

Partai Bintang Reformasi yang di bidani dan sekaligus di Nahkodai Oleh Kiyai Sejuta Umat Almarhum KH Zainudin MZ..Mewakili Masyarakat Aceh 1. Barat Selatan, Alhamdulillah Saya bisa duduk Ke Senayan, Terpilih Sebagai Anggota DPR RI 2004 s/d 2009. Usai masa jabatan, dari DPR RI Saya kembali mengajar, menjadi Dosen dan Membuka Konsultan dibidang Anti Korupsi dan Advokasi Pertanahan hingga sampai sekarang.

Sejak Menjalani sebagai aktivis masa kuliah Saya sudah ter obsesi dan mimpi indah untuk jadi Pejabat Negara walau kawan-kawan suka ngeledek Anhar itu mimpi… Penghayal ulung bahkan sempat saya digelar ASBUN asal bunyi… Karena setiap ada diskusi atau perdebatan Tidak pernah Saya lewatkan pokok nya Saya harus bicara menyampaikan Pendapat apa saja lah yg penting harus bicara.

Berbekal pernah aktif mengikuti latihan Teater di TIM saat itu Setiap ada acara Lomba Puisi di 5 gelanggang Remaja se DKI Jakarta harus Saya ikut. Alhamdulillah berbekal pernah Juara 1 Deklamasi/puisi saat tamat SD di kampung, Saya nekat ikut lomba di Ibu Kota. Sampai lah puncak nya Saya pernah ikut dan Juara Lomba Pidato KNPI mewakili 5 wilayah Kota se DKI Jakarta.

Motivasi kuat untuk jadi seorang pejabat Negara Itu saya cam kan dengan Doktrin pada Diri saya sendiri sejak masa kuliah setiap kali Saya melewati Gedung DPR RI dengan kendaraan Umum Bus PPD Saat itu saya selalu berkata dalam Hati Aku Harus bisa berkantor disini sebagai Anggota DPR RI… Alhamdulillah tekad dan Doa Saya diijabah Allah.

Sebagai seorang Muslim Selalu disetiap Selesai Solat Malam Saya berdoa Ya Allah berikanlah kesempatan disisa umurku ini bermanfaat sepenuhnya bagi Masyarakat. Dan sudah menjadi Tekad Saya tidak ada artinya lagi Hidup ini jika tidak bisa bermanfaat bagi orang Lain. Bagi Bangsa dan Negara tercinta ini. dimanapun. Kapanpun dan Situasi apapun kita berada.

Jika ada orang lain. Tokoh lain yang lebih layak utuk dipilih dari saya maka saya ikhlas memberikan Kesempatan bagi mereka untuk menyampaikan Aspirasi dan memperjuangkan Hak Hak Rakyat.

Alhamdulillah selama 5 Tahun saya mewakili Masyarakat Aceh, hanya ada satu pulau Kecil di samudra Indonesia itu yang tidak sempat saya kunjungi karena transportasi nya yg sampai saat ini sangat Sulit, yakni Pulau Banyak, sedangkan Selebihnya, ada 11 Kabupaten Kota, Alhamdulillah telah saya datangi kembali dengan menyapa secara langsung, bercengkrama dan bermalam di kampung-kampung di pedalaman Aceh, sehingga begitu saya memutuskan tidak melanjutkan ikut pencalonan kembali, banyak Tokoh-tokoh masyarakat yang menyayangkan nya. Alhamdulillah sampai saat ini hubungan saya dengan sahabat-sahabat di Aceh masih berlanjut.

Awal nya Tidak ada niat bagi saya untuk ikut mencalonkan diri kembali apalagi kembali menjadi anggota DPR-RI. Namun apa hendak ditolak lagi, dua kali saya bertemu dgn Ketua Umum Partai Berkarya, beliau dengan senyum Khas nya berkata “Sayang kalau orang seperti Anda tidak mau ikut terjun dalam politik.” kurang bermanfaat kalau hanya berteriak diluar saja. Kalimat sederhana yang diucapkan dengan nada Datar dan senyum renyah Khas Tommy Soeharto selalu terngiang di telinga saya.

Saya meyakini tidak ada sesuatu merupakan kebetulan, beberapa hari kemudian usai pertemuan saya dengan Tommy Soeharto, saya ditelpon Sahabat lama saya dari Banten untuk mengajak saya ikut memperjuangkan aspirasi Masyarakat Banten.

Dan, lagi lagi kalimat yang sama terucap dari sahabat saya itu, ia mengatakan, “Sayang kalau orang seperti Abang tidak mau bersuara di Parlemen” tapi kali ini dengan nada tinggi dan berbau ejekan, maklum Sahabat Saya ini seniman teater. Beliau, sempat berucap : “Abang harus ikut pencaleg-kan, kami akan segera mengusulkan Abang untuk nomor urut 1.

Wah, saya kaget, apalah saya ini dan apa jabatan sahabat saya itu di Partai Berkarya Banten, kok bisa? Ternyata, ketua DPW partai Berkarya Banten itu adalah Ketua Pemuda Pancasila Kabupaten Pandeglang dan juga sebagai aktivis Gerakan ummat 212, dan tentunya, disinilah ke-samaan kami dalam berjuang, Insya Allah atas ijin Allah dan dukungan masyarakat, saya bertekad Harus Mampu dan mewajibkan diri saya untuk menampung dan menyalurkan Aspirasi masyarakat Banten, Khususnya Kabupaten LEBAK dan PANDEGLANG yang saya wakili..Barakallah Aamiinnnn

H. ANHAR, SE.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *