Tommy Soeharto : Jadikan Pemilu Sebagai Medan Juang Untuk Menentukan Arah Baru Perjalanan Bangsa

 

Hutomo Mandala Putra yang pada satu hari sebelumnya usai melakukan panen raya dan temu wicara dengan petani di Jawa Tengah, hari ini (Minggu 24 Maret 2019) juga melakukan Temu Wicara dengan Petani di desa Nagrak Sukabumi Jawa Barat.

Temu Wicara sekaligus konsolidasi yang dihadiri oleh para pengurus DPW, DPD, DPP, serta kader-kader Partai Berkarya itu juga diisi penyuluhan tentang bagaimana cara peningkatan hasil pertanian dengan menggunakan pupuk cair.

Pada kesempatan yang sama , Putra mantan presiden Soeharto yang akrab disapa Tommy Soeharto itu dalam pidatonya juga membahas mengenai kekawatirannya terhadap utang negara yang saat ini hingga menyentuh 5000 triliun.

Tommy mengatakan bahwa tentunya “utang sedemikian besar itu jelas tidak dapat diselesaikan pemerintah saat ini, atau bahkan pemerintah 5 tahun kedepan nanti.”

Menurut Ketua Umum Partai Berkarya itu dalam pidatonya ; “yang lebih menghawatirkan lagi adalah hutang luar negeri kita yang sedemikian besar itu seharusnya dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat, tetapi yang terjadi justru tidak demikian,” ujarnya menegaskan.

Ketua umum Partai Berkarya itu juga mengatakan, “Tentunya hal tersebut dikarenakan bangsa kita saat ini seolah kehilangan arah dalam pembangunan, selama reformasi ini kita kehilangan GBHN dan program pembangunan lima tahunan atau Repelita.”

Ia, (Tommy Soeharto) melanjutkan, “padahal, seharusnya untuk membangun negara ini perlu memiliki target yang jelas, namun sekarang pembangunan hanya dilaksanakan berdasarkan APBN (Anggaran Pembelanjaan Negara) tahunan, jadi dapat dibayangkan, pengeluaran negara sebesar ini hanya dengan target tahunan, dan tentunya itu tidak tepat,” ujar Tommy.

Masih pada pidatonya, Ketua Umum Partai Berkarya itu juga menyoal terkait besarnya anggaran pendidikan yang dianggarkan namun faktanya masih tidak dapat menjamin pendidikan gratis bagi rakyatnya.

Ia mengatakan : “Yang lebih memprihatinkan lagi, KPU merelease bahwa 40 persen pemilih di Indonesia saat ini adalah lulusan SMP, bukan lulusan SMA, ujarnya.

“Sehingga dapat kita tarik kesimpulan, bahwa selama 20 tahun reformasi ini pemerintah telah gagal meningkatkan pendidikan masyarakat Indonesia , dan ini sangat-sangat memprihatinkan,” ujarnya menegaskan.

Ketua Umum Partai Berkarya itu di hadapan para kader dan masyarakat menegaskan, “oleh sebab itu yang dapat kita lakukan adalah berjuang melalui konstitusi, mari kita memanfatkan pemilu sebagai medan juang kita untuk mendudukan kader-kader terbaik kita di parlemen, agar dapat membawa arah baru bagi perjalanan bangsa ini kedepannya.(red)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *